Juli 28, 2026
1000876322_-_rosan_1776924504-768x512

Jakarta – Ekspansi program hilirisasi terus memperkuat transformasi industri berbasis sumber daya alam di Indonesia. Selain meningkatkan nilai tambah komoditas mineral, percepatan hilirisasi juga dinilai mampu memperluas peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya menjadi yang terbesar di Indonesia pada kuartal II-2026 dengan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.

Nilai tersebut melonjak 193 persen dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar Rp13,7 triliun. Posisi berikutnya ditempati investasi hilirisasi nikel sebesar Rp29,4 triliun, disusul tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya senilai Rp4,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai proyek hilirisasi menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Menurutnya, proyek hilirisasi yang dikembangkan PT Vale Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan industri berbasis sumber daya alam mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok internasional.

“Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional, yakni membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions,” kata Rosan.

Rosan menjelaskan pengembangan kawasan industri berbasis hilirisasi juga menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.

Salah satu proyek yang menjadi penanda percepatan hilirisasi ialah pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi milik PT Vale Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah.

Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman, menilai pembangunan fasilitas HPAL kini menjadi kebutuhan strategis seiring meningkatnya permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik di pasar global.

“Sebagian besar belanja modal perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut,” ujar Ferdy.

Namun, di sisi lain, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan masih terdapat tujuh proyek smelter bauksit yang progres pembangunannya berada di bawah 60 persen sehingga memerlukan percepatan penyelesaian agar target hilirisasi nasional dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *